Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Ittihadiyah Labuhanbatu Utara (STIT AILU) melaksanakan Konferensi Internasional Pendidikan Islam pada hari Kamis tanggal 23 Desember 2021. Kegiatan tersebut dilaksanakan bekerjasama dengan FITK UIN-SU Medan, STAI Jam’iyah Mahmudiyah Tanjung Pura, STIT Batu Bara dan Fakultas Tarbiyah IAIDU Kisaran. Adapun keynote Speaker pada kegiatan tersebut adalah Prof. Dr. H. Syafaruddin, M.Pd dengan Invited Speaker antara lain: Prof. Dr. H. Haidar Putra Daulay, MA dari UIN-SU Medan, Prof. Dr. Maimun Aqsa dari UKM Malaysia, Assoc. Prof. Dr. KH. Amiruddin MS, MA dari UMSU Medan, Dr. Mursal Aziz, M.Pd.I dari STIT Al-Ittihadiyah Labura dan Prof. Dr. Ibrahem Narongrakshaket dari Singkla University Fattani Thailand. Kegiatan konferensi ini dipandu oleh Fitri Armin, M.Pd dari FITK UIN-SU.
Dr. Mursal Aziz, M.Pd.I dalam kata sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan konferensi Internasional ini adalah kegiatan rutin yang dilaksanakan STIT Al-Ittihadiyah Labura setiap tahun bekerjasama dengan kampus mitra STIT AILU dan konferensi Internasional kali ini adalah konferensi Internasional ke-5 yang dilakukan oleh STIT Al-Ittihadiyah Labuhanbatu Utara yang bekerjasama dengan kampus mitra. Kegiatan konferensi internasional ini dilaksanakan dalam dua segmen, pertama penyampaian dari narasumber pada pagi hari dan persentase dari presenter yang dibagi dalam 5 ruang mulai siang sampai sore. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk kemajuan pendidikan Islam, karena tema yang diangkat adalah Pendidikan Islam di Asia Tenggara,” jelas Mursal.
Dr. Mardianto, M.Pd pada pembukaan konferensi menyambut baik kegiatan konferensi ini. Beliau menegaskan bahwa kegiatan konferensi Internsional merupakan bagian penting kegiatan akademik. Prof. Syafaruddin, M.Pd dalam penyampaiannya menjelaskan tentang strategi pengembangan madrasah di Indonesia era kontemporer. Ia memaparkan issu utama pendidikan Islam di Madrasah antara lain: Kuantitas versus kualitas (ada madrasah Tsanawiyah/Aliyah regular, Model, dan Unggul /Insan Cendekia/ada 26 Provinsi), kemudian lemahnya manajemen dan Kepemimpinan Kepala Madrasah, Sarana dan Prasarana kurang kondusif, Pembiayaan Pendidikan Masih cenderung rendah/kemampuan manajerial serta Model/orientasi pembelajaran kurang kompetitif/tidak orientasi prestasi.
“Selama ini pengembangan madrasah yang dilakukan strategi dari pemerintah pusat kepada masyarakat (top dowan process) atau madrasah untuk madrasah negeri. Sedangkan bagi madrasah swasta model pengembangan madrasah adalah menerapkan model manajemen peningkatan mutu berbasis madrasah dalam rangka menciptakan lulusan kompetitif dengan madrasah lainnya, baik bersaing dengan madrasah negeri maupun madrasah swasta sebagai pelaksana pendidikan Islam di Indonesia,” papar Guru Besar UIN-SU itu.
Prof. Dr. Maimun Aqsa Lubis mengupas tentang inovasi strategi pendidikan Islam menghadapi era milenial 5.0 (pengalaman universiti kebangsaan malaysia) dalam penyampaiannya. Maimun memaparkan ada enam pendukung pendidikan Islam yaitu: komunikasi, kerohanian, sikap dan nilai, kemanusiaan, keterampilan diri, perkembangan fisik dan estetika dan Sains teknologi. Assoc. Prof. Dr. KH. Amiruddin, MS menyampaikan tentang merdeka belajar relevansinya terhadap karakter peserta didik. Beliau menyampaikan merdeka belajar diyakini mampu menjawab tantangan era globalisasi dan digitalisasi.“Merdeka belajar merupakan paradigma pendidikan yang perlu dipahami secara komprehensif. Kemerdekaan dimaknai sebagai kemampuan untuk hidup dengan kekuatan sendiri, menuju ke arah keselamatan dan kebahagiaan,”
Prof. Dr. Ibrahem Narongrakskhet dalam penyampaiannya membahas tentang pendidikan Islam di Thailand. Pendidikan Islam di Thailand lebih fokus kepada pondok sebagai pusat pendidikan Islam. Setelah penyampaian dan materi yang beliau sampaikan kemudian dilanjutkan diskusi tentang pendidikan Islam di Asia Tenggara. Selanjutnya pelaksanakan diskusi dilakukan persentase oleh 61 presenter yang dilakukan setelah sholat Zuhur sampai sore.